BAB 1: TIDAK BOLEH MEMBERIKAN KESAKSIAN UNTUK MEMBELA KESALAHAN



1175[Bukhari 2625] Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud ra bahwa Nabi Saw pernah bersabda: "Orang-orang yang terbaik adalah generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya. Setelah itu akan muncul generasi yang di tengah mereka ada orang yang kesaksiannya mendahului sumpahnya, dan sumpahnya juga mendahului kesaksiannya".





BAB 2: KESAKSIAN PALSU



1176[Bukhari 2654] Diriwayatkan dari Abu Bakrah ra dia berkata: Nabi Saw pernah bertanya, "Sudikah kalian aku beritahu dosa yang paling besar di antara sekian dosa besar?" Beliau mengulanginya tiga kali. Para sahabat menjawab, "Tentu, ya Rasulullah". Beliau bersabda, "1) Menyekutukan Allah. 2) Durhaka kepada kedua orang tua". Rasulullah Saw yang semula bersandar kemudian duduk tegak, lalu melanjutkan sabdanya, "Hati-hati, yang ketiga adalah ucapan/ kesaksian dusta". Kata Abu Bakrah: Rasulullah Saw terus mengulang-ulangnya sehingga kami berharap beliau tidak mengulanginya lagi.





BAB 3: KESAKSIAN ORANG BUTA, PERNIKAHANNYA, PERINTAHNYA, PERWALIANNYA DALAM MENIKAHKAN, JUAL BELINYA, MENDATANGI PANGGILAN AZANNYA, DAN LAIN-LAIN, SERTA APA YANG DIKENALI DENGAN SUARANYA.



1177[Bukhari 2655] Diriwayatkan dari Aisyah ra dia berkata: Suatu ketika Nabi Saw mendengar seorang laki-laki membaca Al-Quran di masjid, kemudian Nabi Saw bersabda, "Semoga Allah memberikan rahmat kepadanya. Ia benar-benar mengingatkanku pada ayat-ayat dari surah tertentu yang lepas dari ingatanku".



1178[Bukhari 2655] Diriwayatkan dari Aisyah ra pada riwayat lain, dia berkata: Nabi Saw melaksanakan solat Tahajjud di rumah saya, kemudian beliau mendengar suara Abbad yang sedang mengerjakan solat di masjid, lalu beliau bertanya, "Hai Aisyah, apakah ini suara Abbad?" Aisyah menjawab, "Ya". Rasulullah Saw berdoa, "Ya Allah, berikan rahmat kepada Abbad".





BAB 4: KESAKSIAN SEORANG WANITA



1179[Bukhari 2661] Diriwayatkan dari Aisyah ra, dia berkata: Setiap kali Rasulullah Saw akan bepergian beliau mengundi istri-istrinya. Kemudian beliau mengajak salah seorang dari mereka yang beruntung dalam undian tersebut. Suatu ketika Rasulullah Saw mengundi kami ketika hendak berangkat ke suatu pertempuran, ternyata saya memenangkan undian, sehingga saya turut pergi bersama beliau sesudah ayat tentang hijab diturunkan. Saya dinaikkan di dalam sekedup di atas onta, kemudian rombongan kami berangkat. Pada suatu malam seusai perang dan beristirahat yang ketika itu kami sudah dekat dengan Madinah, Rasulullah Saw memerintahkan pasukan untuk berangkat melanjutkan perjalanan, namun saya berjalan sendirian meninggalkan pasukan untuk buang hajat. Setelah buang hajat, saya kembali ke tempat perkemahan pasukan, lalu saya meraba dada saya ternyata kalung saya yang terbuat dari kayu Zhafar hilang, sehingga saya kembali lagi ke tempat buang hajat untuk mencarinya sampai saya tertinggal oleh pasukan. Orang-orang yang bertugas menuntun onta saya menghampiri sekedup yang semula saya naiki, kemudian mereka mengangkatnya dan meletakkannya di atas onta, karena mereka mengira bahwa saya sudah berada di dalam sekedup itu. Ketika itu istri-istri Nabi Saw bertubuh kurus karena hanya memperoleh makanan yang amat sedikit, sehingga orang-orang yang bertugas menuntun onta saya tidak bisa merasakan perbedaan beratnya sekedup yang kosong dengan sekedup yang sudah saya naiki, maka mereka mengangkut sekedup itu tanpa saya. Ketika itu saya masih berusia muda (belum 15 tahun). Mereka memberangkatkan onta saya dan terus berjalan. Saya berhasil menemukan kalung saya ketika pasukan sudah berangkat. Saya kembali ke tempat mereka tetapi sudah tidak ada seorangpun. Saya menuju ke tempat saya semula, karena saya yakin mereka akan kehilangan saya lalu kembali mencari saya. Ketika saya duduk, mata saya terpejam sehingga saya tidur. Shafwan bin Al-Mu'atthal As-Sulamy Adz-Dzakwani yang bertugas memantau medan setelah keberangkatan pasukan, sampai di tempat saya ketika subuh. Dia melihat sosok seseorang yang tidur di remang-remang fajar kemudian dia menghampiri saya dan dia melihat saya sebelum saya mengenakan hijab. Saya terbangun oleh ucapan istirja'nya (ucapan Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun) sambil menderumkan ontanya. Begitu kaki depan ontanya berlutut, saya menaikinya dan dia menuntun onta itu sehingga kami menyusul pasukan setelah mereka beristirahat pada tengah hari. Maka celakalah orang yang celaka dengan melontarkan tuduhan palsu terhadap saya bahwa saya telah berbuat mesum. Tuduhan tersebut dipimpin oleh Abdullah bin Ubaiy bin Salul. Maka sampailah kami di Madinah. Saya sakit selama satu bulan, sementara orang-orang selalu memperbincangkan gosip yang disebarkan oleh para pembuat tuduhan palsu. Saya semakin menderita, karena selama saya sakit saya tidak merasakan kelembutan dan keramahan dari Nabi Saw seperti biasanya. Beliau hanya masuk ke rumah dengan mengucapkan salam lalu bertanya, "Bagaimana keadaanmu?" Saya sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi sampai saya sembuh, kemudian saya pergi bersama Ummu Misthah ke Manashi, tempat kami buang hajat pada malam hari sebelum kami membangun tempat mandi dan wc di dekat rumah kami sebagaimana tradisi orang-orang Arab dahulu dalam buang hajat. Saya dan Ummu Misthah binti Abu Ruhm berjalan kaki ke Manashi, kemudian dia tersandung karena pakaiannya yang panjang, lalu dia mengucapkan, "Celakalah Misthah". Saya katakan kepadanya, "Sungguh jelek ucapanmu. Mengapa kamu mencaci orang yang turut bertempur dalam perang Badr". Kata Ummu Misthah, "Wahai Hantah (panggilan perempuan), tidakkah kau dengar apa yang diperbincangkan oleh orang-orang?". Ummu Misthah memberitahu saya ucapan orang-orang yang menyebarkan tuduhan palsu, sehingga hal itu membuat saya semakin menderita. Ketika saya pulang ke rumah, Rasulullah Saw menemui saya dengan mengucapkan salam dan bertanya, "Bagaimana keadaanmu?" Saya berkata, "Izinkan saya menemui kedua orang tua saya". Kata Aisyah: Ketika itu saya ingin memperoleh konfirmasi dari kedua orang tua saya mengenai berita tentang saya. Saya bertanya kepada ibu saya, "Apa yang dibicarakan oleh orang-orang?". Ibu saya menjawab, "Wahai anakku, jangan engkau tanggapi masalah itu. Demi Allah, perempuan cantik yang diperistri oleh seorang laki-laki yang mencintainya yang juga memiliki istri-istri lain pasti selalu digunjing dan difitnah". Saya berkata, "Subhanallah". Jadi, orang-orang memang memperbincangkan tuduhan terhadap saya. Semalaman saya tidak bisa tidur sampai pagi sehingga air mata saya habis tidak bisa menetes lagi. Setelah pagi, Rasulullah Saw memanggil Ali bin Abu Thalib dan Usamah bin Zaid untuk dimintai pertimbangan mengenai tindakan beliau menceraikan istrinya ketika wahyu tidak turun. Usamah memberikan pertimbangan berdasarkan pengetahuannya dan rasa senangnya kepada keluarga Rasulullah Saw. Kata Usamah, "Ya Rasulullah, tiada lain yang kami ketahui mengenai istri anda hanyalah kebaikan". Ali bin Abu Thalib berkata, "Ya Rasulullah, Allah tidak akan membebani anda, masih banyak perempuan selain Aisyah. Silahkan tanya kepada pelayan perempuan anda untuk mendapat jawaban yang benar". Kemudian Rasulullah Saw memanggil Barirah, lalu beliau bertanya, "Hai Barirah, apakah kamu mengetahui gelagat Aisyah yang membuatmu mencurigainya?" Barirah menjawab, "Tidak. Demi Allah yang telah mengutus Anda dengan membawa kebenaran. Aisyah tidak mungkin berbuat seperti apa yang dituduhkan. Dia hanyalah seorang perempuan yang berusia remaja yang tertidur membiarkan adonan rotinya kemudian ada kambing datang memakan adonan tersebut". Pada hari itu pula Rasulullah Saw berdiri di atas mimbar untuk meminta dukungan dalam menghukum Abdullah bin Ubaiy bin Salul. Rasulullah Saw bersabda, "Siapa yang sudi mendukungku untuk menghukum orang yang menyakiti keluargaku? Demi Allah, aku tahu istriku tiada lain adalah orang baik, dan orang-orang menuduh laki-laki (Shafwan) yang aku ketahui dia adalah orang baik yang tidak pernah menemui istriku kecuali bersamaku". Sa'd bin Mu'adz berdiri lalu berkata, "Ya Rasulullah, Demi Allah, saya akan mendukung Anda untuk menghukum Abdullah bin Ubaiy. Jika ia dari suku Aus akan kami penggal lehernya. Jika ia dari suku Khazraj, saudara-saudara kami sendiri, perintahkan saja kepada kami, maka kami akan mengeksekusinya". Sa'd bin Ubadah, pemimpin suku Khazraj, berdiri. Semula dia orang saleh, tetapi ia terdorong oleh fanatisme kesukuan, sehingga ia berkata kepada Sa'd bin Mu'adz, "Demi Allah, kamu bohong, kamu tidak akan bisa membunuh Abdullah bin Ubaiy dan tidak akan mampu melaksanakan hukuman kepadanya". Usaid bin Al-Hudhair berdiri lalu berkata kepada Sa'd bin Ubadah, "Demi Allah, kamu bohong, kami pasti bisa membunuh Abdullah bin Ubaiy. Kamu orang munafik yang berdebat untuk membela orang-orang munafik". Kedua suku tersebut, Aus dan Khazraj, bertikai dan bersiap saling menyerang, sementara Rasulullah Saw masih berada di atas mimbar, kemudian beliau turun untuk melerai mereka sehingga mereka tenang dan beliau pun diam. Seharian saya menangis sehingga tidak ada lagi air mata yang bisa menetes tanpa tidur sekejappun. Esok paginya setelah saya menangis dua malam satu hari, kedua orang tua saya berada di samping saya. Saya menyangka bahwa tangis saya akan memecah jantung saya. Ketika kedua orang tua saya sedang duduk di samping saya, sementara saya menangis, tiba-tiba seorang perempuan dari kaum anshar memohon izin untuk masuk, maka sayapun menyilakannya, lalu dia duduk dan menangis bersama saya. Dalam keadaan demikian Rasulullah Saw masuk kemudian duduk, padahal sebelumnya semenjak adanya gosip tentang diri saya, Rasulullah Saw tidak pernah duduk di samping saya. Tidak ada wahyu turun selama satu bulan mengenai diri saya. Sesudah membaca Syahadat, Rasulullah Saw berkata, "Wahai Aisyah, aku mendengar berita mengenai dirimu. Kalau kamu tidak berbuat salah semoga Allah membebaskanmu. Jika kamu berdosa, maka mohonlah ampunan kepada Allah dan bertaubatlah, karena apabila seorang hamba mengakui dosanya kemudian bertaubat, maka Allah akan mengampuninya". Ketika Rasulullah Saw selesai berbicara, air mata saya terus menerus bercucuran sehingga tidak ada lagi rasanya setetespun yang tersisa. Saya katakan kepada bapak saya, "Wakili saya untuk menjawab Rasulullah Saw". Abu Bakr ra berkata, "Demi Allah, saya tidak tahu apa yang harus saya katakan kepada Rasulullah Saw". Saya katakan kepada ibu saya, "Wakili saya untuk menjawab Rasulullah Saw". Ibu saya berkata, "Demi Allah, saya tidak tahu apa yang harus saya katakan kepada Rasulullah Saw". Kata Aisyah: Saya masih berusia muda sehingga belum banyak memahami Al-Quran. Demi Allah, saya mengerti bahwa anda sudah mendengar apa yang diperbincangkan oleh orang-orang dan Anda turut membenarkannya. Jika saya mengatakan kepada Anda bahwa saya tidak berbuat salah dan Allah mengetahui bahwa saya tidak berbuat salah, maka Anda tidak tidak akan percaya. Jika saya mengaku berbuat salah padahal Allah mengetahui bahwa saya tidak berbuat salah, maka Anda akan mempercayai saya. Demi Allah, tidak ada yang bisa saya dapatkan sebagai contoh dalam masalah saya dan Anda selain ayah Nabi Yusuf yang mengatakan, "Maka sebaiknya saya bersabar. Hanya kepada Allah saya memohon pertolongan terhadap apa yang kalian sifatkan". (Al-Quran, surah Yusuf:18). Kemudian saya beralih ke tempat tidur saya sambil berharap agar Allah membebaskan saya dari tuduhan jelek, tetapi Demi Allah, saya tidak menyangka Allah akan menurunkan wahyu yang akan dibacakan mengenai persoalan saya, karena persoalan saya terlalu kecil untuk dimuat dalam Al-Quran, namun saya berharap agar Rasulullah Saw mendapat wahyu lewat mimpi yang dengan itu Allah membebaskan saya dari tuduhan jelek. Demi Allah, ketika Rasulullah Saw belum beranjak dari tempat duduknya dan belum ada seorangpun anggota keluarga yang keluar, wahyupun diturunkan kepada beliu, maka terdapat tanda-tanda yang beliau alami ketika menerima wahyu, sehingga keringat beliau bertetesan sebesar biji-biji mutiara meskipun cuaca pada saat itu sangat dingin. Ketika suasana turunnya wahyu sudah selesai, Rasulullah Saw tersenyum dan kata-kata yang mula-mula beliau ucapkan kepada saya adalah, "Hai Aisyah, bertahmidlah kepada Allah, karena Allah telah membebaskanmu dari tuduhan jelek". Ibu saya berkata kepada saya, "Berdirilah untuk mendekat kepada Rasulullah Saw". Saya katakan, "Tidak. Demi Allah, saya tidak mau mendekat kepada beliau, karena saya memuji kepada Allah". Ayat Al-Quran yang diturunkan oleh Allah Swt ketika itu adalah "Sesungguhnya orang-orang yang membawa tuduhan palsu itu adalah dari golonganmu sendiri ...". (Al-Quran, surah An-Nuur:11). Setelah Allah menurunkan ayat tentang pembebasan saya dari tuduhan jelek tersebut, Abu Bakr Ash-Shiddiq ra yang semula menyantuni Misthah bin Atsatsah karena ada hubungan kerabat mengatakan, "Demi Allah, saya tidak lagi memberikan santunan sedikitpun kepada Misthah setelah ia turut berbicara mengenai tuduhan terhadap Aisyah". Maka Allah Swt menurunkan ayat "Janganlah mereka yang berkelebihan dan berkelapangan di antara kamu bersumpah tidak akan membantu kerabat dan orang miskin"" sampai dengan firmanNya: "Bukankah kamu senang Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang". (Al-Quran, surah An-Nuur:22). Mendengar ayat ini Abu Bakr ra mengatakan, "Ya, Demi Allah, sungguh saya senang jika Allah mengampuni saya". Maka Abu Bakr memberikan santunan kembali kepada Misthah seperti sebelumnya. Kata Aisyah ra: Rasulullah Saw juga bertanya kepada Zainab bin Jahsy mengenai persoalan saya, "Hai Zainab, apa yang engkau ketahui tentang Aisyah?" Kata Zainab, "Ya Rasulullah, saya menjaga pendengaran dan penglihatan saya. Demi Allah. Tidak ada yang saya ketahui pada Aisyah kecuali kebaikan". Kata Aisyah: Zainab selalu bersaing untuk saya (untuk lebih dicintai oleh Rasulullah Saw), namun Allah melindunginya dengan sifat wara' (sehingga ia tidak menjatuhkan saya).





BAB 5: JIKA SEORANG LAKI-LAKI MEMBERI KESAKSIAN, CUKUPLAH



1180[Bukhari 2662] Diriwayatkan dari Abu Bakrah ra, dia berkata: Seorang laki-laki memuji seseorang di hadapan Nabi Saw, kemudian beliau bersabda, "Celakalah kamu, kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu". Beliau mengulangi beberapa kali, lalu beliau melanjutkan sabdanya, "Siapa diantara kamu memuji saudaranya dengan sebenarnya, katakanlah, "Menurut saya si fulan itu begini dan begini, sedangkan Allah yang mengetahui sebenarnya. Saya tidak mendahului Allah mengenai kebaikan seseorang yang sebenarnya, menurut saya, si fulan itu begini dan begini". Demikian itu apabila ia benar-benar tahu kebaikan si fulan tersebut".





BAB 6: USIA BALIGH ANAK LAKI-LAKI DAN KESAKSIAN



1181[Bukhari 2664] Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra Rasulullah Saw memanggil saya menjelang perang Uhud, ketika itu usia saya 14 tahun, kemudian Rasulullah Saw tidak tidak memperbolehkan saya turut berperang. Menjelang perang Khandaq, Rasulullah Saw memanggil saya, ketika itu usia saya 15 tahun, kemudian Rasulullah Saw memperbolehkan saya turut berperang.





BAB 7: BEREBUT SUMPAH LEBIH AWAL



1182[Bukhari 2674] Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa suatu ketika Nabi Saw meminta sejumlah orang untuk bersumpah, maka mereka berebut untuk bersumpah lebih dulu, kemudian Rasulullah Saw memerintahkan pengundian untuk menentukan siapa diantara mereka yang akan bersumpah lebih dulu.





BAB 8: BAGAIMANA CARA BERSUMPAH



1183[Bukhari 2679] Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra bahwa Nabi Saw pernah bersabda: "Siapa yang bersumpah, bersumpahlah dengan nama Allah. Jika tidak, maka diamlah".





BAB 9: BUKANLAH PENDUSTA, ORANG YANG MENDAMAIKAN ANTARA SESAMA MANUSIA



1184[Bukhari 2692] Diriwayatkan dari Ummu Kultshum bin Uqbah ra dia berkata: Saya pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, "Bukanlah pendusta orang yang mendamaikan sesama manusia dengan membuat-buat berita baik atau mengatakan kebaikan".





BAB 10: UCAPAN PEMIMPIN KEPADA PARA PENDUKUNGNYA, "MARI KITA PERGI UNTUK MENDAMAIKAN ORANG-ORANG YANG BERSENGKETA



1185[Bukhari 2693] Diriwayatkan dari Sahl bin Sa'd ra bahwa orang-orang Quba saling bertikai sehingga mereka saling melempar batu, kemudian Rasulullah Saw diberitahu mengenai masalah tersebut, lalu beliau bersabda kepada para sahabatnya: "Mari kita pergi untuk mendamaikan mereka".





BAB 11: MENULIS SYARAT-SYARAT PERDAMAIAN: INI ADALAH SYARAT-SYARAT PERDAMAIAN SI FULAN BIN FULAN DENGAN SI FULAN BIN FULAN, TANPA MENYEBUTKAN SUKU DAN MARGANYA



1186[Bukhari 2699] Diriwayatkan dari Al Barra bi Azib ra dia berkata: Pada bulan Dzul Qa'dah Rasulullah Saw akan melaksanakan umrah, tetapi orang-orang mekkah tidak memperbolehkan beliau memasuki Mekkah kecuali jika beliau berjanji akan tinggal di mekkah hanya selama tiga hari. Kaum muslimin menulis surat perjanjian itu sebagai berikut, "Ini adalah syarat-syarat perjanjian yang disetujui oleh Muhammad Rasulullah Saw". Orang-orang Mekkah mengatakan, "Kami tidak menyetujui surat perjanjian ini, karena kalau kami mengakui bahwa kamu utusan Allah tentu kami tidak akan melarangmu, tetapi kamu adalah Muhammad bin Abdullah". Kata Nabi Saw, "Aku utusan Allah dan aku Muhammad bin Abdullah". Nabi Saw menyuruh Ali, "Hapuslah kata-kata "Rasulullah/ utusan Allah" dalam surat perjanjian itu". Ali ra menjawab, "Demi Allah, saya selamanya tidak mau menghapus nama anda". Kemudian Rasulullah Saw mengambil surat tersebut, lalu menulis, "Ini adalah surat perjanjian yang disetujui oleh Muhammad bin Abdullah. Ia tidak membawa senjata ketika memasuki Mekkah kecuali tersarungkan, ia tidak membawa orang Mekkah yang ingin mengikutinya, dan ia tidak melarang sahabatnya untuk tinggal di mekkah jika ingin". Ketika Rasulullah Saw memasuki mekkah dan batas waktunya sudah berakhir, orang-orang mekkah menemui Ali, lalu mengatakan, "Katakan pada temanmu, "Keluarlah dari kota kami ini, karena batas waktunya sudah habis"". Maka Rasulullah Saw keluar dari Mekkah, kemudian anak perempuan Hamzah mengejar Rasulullah Saw dan para sahabatnya sambil memanggil-manggil, "Wahai paman, wahai paman". Ali ra menyambutnya dan memegang tangannya, kemudian ia katakan kepada Fathimah as, "Bawalah putri pamanmu ini". Ali, Zaid, dan Ja'far berselisih mengenai anak perempuan tersebut. Kata Ali, "Saya lebih berhak mengasuhnya, karena ia putri paman saya". Kata Ja'far, "Saya lebih berhak, karena ia putri paman saya dan bibinya menjadi istri saya". Kata Zaid, "Saya lebih berhak, karena ia putri saudara laki-laki saya". Kemudian Nabi Saw memutuskan anak perempuan tersebut dalam asuhan bibinya. Beliau bersabda, "Bibi (maksudnya: Saudara perempuan ibu) sama dengan kedudukan ibu". Rasulullah Saw bersabda kepada Ali, "Kamu dari aku dan aku dari kamu". Beliau bersabda kepada Ja'far, "Sifat dan akhlakmu serupa denganku". Beliau bersabda kepada Zaid, "Kamu adalah saudara kami dan budak kami yang telah dimerdekakan".





BAB 12: SABDA NABI SAW KEPADA AL HASAN BIN ALI: "ANAKKU INI SEORANG SAYYID"



1187[Bukhari ] Diriwayatkan dari Abu Bakrah ra dia berkata: Saya pernah melihat Rasulullah Saw di atas mimbar, sementara Al Hasan bin Ali berada di samping beliau. Sesekali Rasulullah Saw menghadap ke orang banyak dan sesekali menghadap ke Al-Hasan. Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya anakku ini seorang Sayyid. Mudah-mudahan dengan Al-Hasan Allah mendamaikan antara dua kelompok besar umat Islam yang bertikai".





BAB 13: APAKAH SEORANG PEMIMPIN HARUS MENGANJURKAN PERDAMAIAN



1188[Bukhari 2705] Diriwayatkan dari Aisyah ra dia berkata: Suatu ketika Rasulullah Saw mendengar suara keras dua orang yang bertengkar di depan pintu rumah beliau, yang salah satunya menagih piutang kepada yang lain. Kata orang yang ditagih, "Demi Allah, saya tidak mau melaksanakan pembayaran". Rasulullah Saw keluar menemui dua orang tersebut kemudian beliau bertanya, "Mana orang yang bersumpah tidak mau berbuat kebaikan?" Salah satu dari dua orang tersebut menjawab, "Saya ya Rasulullah. Saya tidak mau melaksanakan apa yang ia inginkan".