Kitab Dua Hari Raya


BAB1: SOLAT KHAUF (DALAM KEADAAN GENTING)



524[Bukhari 942] Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra, dia berkata: Saya turut serta bersama Rasulullah Saw dalam peperangan di Najd. Kami berhadap-hadapan dengan musuh dan membentuk barisan. Kemudian Rasulullah Saw mengimami solat kami (solat khauf). Makmum kelompok satu mengikuti solat bersama Rasulullah Saw, sementara makmum kelompok dua berjaga-jaga menghadapi musuh. Setelah Rasulullah Saw bersama kelompok satu mendapat satu rakaat dengan sekali ruku dan dua kali sujud, maka makmum kelompok satu ini menambah satu rakaat lagi (qashar) tanpa bermakmum kepada Rasulullah Saw. setelah solat, mereka menggantikan posisi kelompok dua untuk berjaga menghadapi musuh, kemudian kelompok dua yang belum solat itu memulai solat dengan bermakmum (makmum masbuq) kepada Rasulullah Saw. Rasulullah Saw melaksanakan solat pada rakaat kedua dengan satu ruku dan dua kali sujud bersama kelompok dua, kemudian beliau salam. Setelah Rasulullah Saw salam, kelompok dua ini menambah satu rakaat lagi sendiri-sendiri dengan satu kali ruku dan dua kali sujud.





BAB 2: SOLAT KHAUF DENGAN BERDIRI ATAU BERKENDARAAN



525[Bukhari 943] Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra, dia berkata dalam riwayat lain bahwa Nabi Saw pernah bersabda (mengenai solat khauf): "Apabila musuh sangat banyak, maka lakukanlah solat dengan berdiri atau dengan berkendaraan".





BAB 3: JIKA PASUKAN MUSLIM SEDANG MEMBURU ATAU SEDANG DIBURU, BOLEH SOLAT DENGAN BERKENDARAAN ATAU ISYARAT



526[Bukhari 946] Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra, dia berkata: Ketika pulang dalam perang Ahzab, Nabi Saw bersabda, "Jangan ada yang melaksanakan solat Asar kecuali sesudah sampai di perkampungan suku Quraizhah". Di tengah perjalanan tibalah waktu Asar, maka sebagian mereka mengatakan, "Kita tidak boleh mengerjakan solat Asar sebelum sampai di perkampungan suku Quraizhah". Sementara sebagian yang lain mengatakan, "Kita laksanakan saja solat Asar sekarang juga dalam perjalanan, karena Nabi Saw tidak bermaksud melarang kita seperti itu". Mereka mengadukan perselisihan paham tersebut kepada Nabi Saw namun beliau tidak menyalahkan seorangpun dari mereka.